Friday, February 19, 2010

Geger di Pantai Geger

Ketika menghabiskan waktu liburan, salah satu destinasi favorit saya adalah mengunjungi pantai. Walaupun panas, tapi kalo udah ngeliat laut biru campur ijo, rasanya tenaang banget. Kebetulan, waktu itu saya berada di daerah Nusa Dua. Tapi kalo ke pantai nusa dua, kayaknya bosen banget. Apalagi ke kuta. Makin bising disana.


Kemudian k2 saya mengajak ke Pantai Geger. Lokasinya lumayan sepi. Kalo di jalan by pass ngurah rai kawasan nusa dua, ada perempatan, kemudian belok kanan (jalan ke STP Nusa Dua). Lurus aja, ikuti petunjuk jalan. Tibalah anda di pantai Geger.


Kesan pertama melihat pantai ini: GREEEEAAAAT! Pasir putihnya alus banget, ombaknya tenang, warna lautnya biru campur ijo, dan ada pemandangan tebing2 yang mengingatkan pada Tanah Lot. Disini gak terlalu banyak orang. Hanya ada beberapa turis dan petani rumput laut. yang jelas, pantai ini private banget. Jadi kayak terdampar di suatu pulau gt deh... ky filmnya Tom Hanks yang Cast Away gt. Hehe. Mau gila2an disini, bisa kok. Kebetulan saya bersama sepupu, sehingga suasana jadi rame banget. Jadilah kita jepret sana jepret sini. Adegan paling susah adalah adegan jumping pose. foto narsis juga banyak... Saya pajang beberapa aja ya. Hehe...

Tuesday, February 16, 2010

I AM BACK!

Whew... akhirnya. Setelah sekian lama, menghilang dari peradaban, saya kembali lagi nge-blog. Ketika baca di dashboard blogger, ternyata last post tahun 2008. Sekarang udah tahun 2010, berarti 2 tahun sudah saya tidak menulis di blog. Ckckc... untung akun saya belum kadaluarsa.
Dari awal membuat blog ini, saya selalu sadar bahwa menulis bukan salah satu hal yang menarik buat saya. Saya juga udah menduga bahwa suatu saat, pastilah blog ini gak bakalan di update. Dan setelah 2 tahun, barulah saya sadar, ternyata --> this blog is widely spread from link to link, from mouth to mouth. Banyak yang nanyain, kapan blog ini di update lagi???? (yang ternyata sangat menohok saya).
Itulah salah satu resiko mempunyai blog. Harus terus di update dengan sesuatu yang baru. Selama 2 tahun ini, saya udah ngelewatin berbagai hal. Seneng, sedih, new friends, new experience, and many more. Ketika banyak orang 'menuntut' ingin mengetahui aktivitas saya (hoekkkk...), saya sadar bahwa inilah salah satu tempat yang paling tepat untuk membaginya.
Sodara di rumah maupun yang cuma bisa berkomunikasi lewat FB, semua menanyakan blog ini. Kapan di update lagi? Fotonya yang lain masih ada kan? (in fact, banyak yang suka mengintip foto-foto saya, Wkwkwk...)

Okelah kalo begitu
Dengan ini saya proklamirkan bahwa saya balik lagi di dunia BLOG! Sekian dan terima kasih. (prok... prok... prok...)

Tuesday, November 25, 2008

Tips Menghadapi Tukang Tattoo Temporary

Hati-hati jika ingin membuat Tattoo Temporary di Bali. Bisa jadi harganya berlipat-lipat tak keruan.

Waktu dalam perjalanan ke Ubud, saya mampir di Pasar Sukawati—pasar murah yang terkenal karena barang seninya. Seperti biasa, banyak tukang tattoo temporary yang menjajakan jasanya. Sekali berkata ’ya’, maka anda akan sulit lepas dari jeratan mereka.

Pertama, mereka akan langsung menggambari bagian tubuh anda begitu anda menunjuk gambar tato yang anda inginkan. Saya sarankan, tanyalah dulu berapa harganya. Karena jika bagian tubuh sudah terlanjur ditato, maka akan sulit sekali menegosiasi harganya. Bisa-bisa harganya dikatrol sampai Rp. 95.000,-.

Tawarlah harga tato sebelum digambar di tubuh. Tawar sampai Rp.10.000,-. Jika dia tak mau, pura-pura saja pergi. Maka mereka akan kembali menarik anda dengan harga—paling tidak—Rp.20.000,-. Kalau sudah begini, jalan pintasnya adalah menawar sedikit lebih murah dari yang mereka tawarkan, namun sedikit lebih mahal dari harga yang kita tawarkan terdahulu. Misalnya, ambil harga Rp.15.000,-, itu harga yang pedas-manis, harga yang pas. Dengan harga itu, saya yakin, penjual jasa tattoo temporary sudah untung. Kalau sudah sepakat, barulah ijinkan mereka untuk menggambar tattoo.

Saya membuat tattoo tribal pada kaki seharga Rp.15.000,-. Tattoo-nya lumayan bagus. Unsur seni-nya ada. Tahan selama 2 minggu. Kalau tidak mandi, bisa tahan sampai berbulan-bulan (ini lelucon si tukang tattoo, lumayan lucu juga).

Saturday, October 25, 2008

Balon untuk Aulia


Sewaktu ada upacara adat di Tabanan, saya bertemu dengan sepupu jauh. Dia baru saja berumur 4-5 tahun, baru masuk TK. Namanya Aulia. Awalnya, dia agak sedikit canggung bertemu saya. Tapi lama kelamaan, dia semakin nempel sama saya. Apa-apa sama Om Kenneth. Keluar sama Om Kenneth. Makan sama Om Kenneth. Saya sih tak keberatan, toh dia lucu sekali

Sampai pada suatu hari, dia berlari-lari menyongsong saya. Katanya, dia baru saja membeli slurry balloon di warung sebelah. Agak mengejutkan juga, anak sekecil itu bisa membeli barang sendirian. Tapi yang jadi masalah, dia tak bisa meniup balon itu. Alhasil saya yang jadi sasaran untuk meniupkan balon untuk Aulia.

Balon pertama jadi. Dia senang sekali dan meminta untuk dibuatkan lagi. Balon kedua selesai. Namun ternyata dia masih belum puas. Akhirnya, saya habiskan saja semua cairan balon agar ia tak merengek lagi.

Tanpa saya sadari, Bli Pala—teman kakak saya—mengabadikan momen-momen itu lewat lensa kamera. Dan hasilnya luar biasa sekali. Ini beberapa tangkapan ekspresi saya bersama Aulia. Foto itu tak hanya bagus dan bernilai artistik tinggi, tapi juga mencitrakan diri saya sebagai penyayang anak. Haha. Thanks to Bli Pala.

Wednesday, October 1, 2008

Freedom Pose


Foto ini diambil kakak saya. Ceritanya biar mirip Jhonny Depp di POC yang lagi teriak "Ayee...!!!"
Tapi gagal total. Malahan kakak saya comment: "Itu lagi pose atau mau bunuh diri?". Kalau itu mah pertanyaan kurang ajar. Dia pikir saya mau kelelep kali ya? Hehehe...
Tapi, latarnya bagus. Saya suka sekali.
Oh iya. Tolong jangan dilihat tanggalnya. Saya sering lupa me-reset kamera. It doesn't matter, right?


Standing at The Edge of Bali

Libur lebaran ini sempat membuat saya bingung. Saya tak tahu harus pergi kemana. Tentu saja saya tak mau menghabiskan waktu duduk di depan laptop. Saya pikir, mestilah ada hal yang menarik di liburan kali ini.

Iseng-iseng, mulailah saya mencari lokasi pantai di Google Maps. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah Pecatu. Jika ingin tahu kawasan ini, cari peta Pulau Bali. Kawasan Pecatu terletak tepat di kaki Pulau Bali. Kebetulan saya menginap di Jimbaran sehingga tak perlu waktu lama untuk mencapai Pecatu.

Di kawasan ini banyak terdapat pantai yang terkenal karena ombaknya yang besar. Inilah surga para surfer. Ombak besar inilah yang tetap menjaga nama Bali sebagai salah satu tempat surfing yang diakui secara internasional. Pertama-tama, saya datang ke Pantai Suluban. Dalam Bahasa Bali, suluban berarti “masuk dengan merunduk”. Dan memang benar, untuk mencapai ke bawah tebing, kita harus masuk dengan menunduk di sela-sela tebing. Sampai di bawah, deburan ombak langsung menyambut. Kemudian saya mendaki sebuah tebing untuk melihat pantai secara keseluruhan. Disinilah puncak kepuasannya. Di atas tebing ini, saya bisa melihat luasnya Laut Bali dibatasi tebing-tebing berkapur. Di atas ombak, para surfer menari-nari. Di sebelah saya, fotografer profesional memotret mereka dengan lensa yang super-besar.

Saya benar-benar merasa di ujung dunia!

Pantai kedua adalah Pantai Padang-Padang. Akses untuk menuju ke tempat ini sedikit lebih berat. Maksud saya, jalannya curam sekali. Untuk menuju ke pantainya, saya harus menuruni anak tangga—yang lumayan membuat tersengal-sengal. Ombak pantai sedikit lebih tenang, sehingga pas sekali untuk bersantai. Seperti biasa, pantai ini dilengkapi tebing-tebing yang curam. Inilah yang menambah keindahan pantai ini. Siapapun juga—termasuk saya—setelah menginjakkan kaki di pasir putih Pantai Padang-Padang pasti akan merasa berada di remoted island.

Setelah mengunjungi kedua pantai itu, saya memutuskan untuk ke Nusa Dua. Ini tempat kedua yang paling saya kunjungi selain Kuta. Sudah tak terhitung entah berapa kali saya ke Nusa Dua. Yang pasti, lumayan sering. Kuta pasti-lah ramai sekali. Jadi saya lebih memilih pergi ke Nusa Dua, hitung-hitung untuk ‘bertapa’ sedikit lah. Hehehe…

Pulang-pulang, kaki saya pegel minta ampun. Belum lagi tangan saya sedikit terbakar matahari. Mata memerah, rambut acak-acakan. Tapi saya puas sekali. Dan bertambah pula impian saya: untuk bisa mengendarai ombak. Hm...