Tuesday, November 25, 2008

Tips Menghadapi Tukang Tattoo Temporary

Hati-hati jika ingin membuat Tattoo Temporary di Bali. Bisa jadi harganya berlipat-lipat tak keruan.

Waktu dalam perjalanan ke Ubud, saya mampir di Pasar Sukawati—pasar murah yang terkenal karena barang seninya. Seperti biasa, banyak tukang tattoo temporary yang menjajakan jasanya. Sekali berkata ’ya’, maka anda akan sulit lepas dari jeratan mereka.

Pertama, mereka akan langsung menggambari bagian tubuh anda begitu anda menunjuk gambar tato yang anda inginkan. Saya sarankan, tanyalah dulu berapa harganya. Karena jika bagian tubuh sudah terlanjur ditato, maka akan sulit sekali menegosiasi harganya. Bisa-bisa harganya dikatrol sampai Rp. 95.000,-.

Tawarlah harga tato sebelum digambar di tubuh. Tawar sampai Rp.10.000,-. Jika dia tak mau, pura-pura saja pergi. Maka mereka akan kembali menarik anda dengan harga—paling tidak—Rp.20.000,-. Kalau sudah begini, jalan pintasnya adalah menawar sedikit lebih murah dari yang mereka tawarkan, namun sedikit lebih mahal dari harga yang kita tawarkan terdahulu. Misalnya, ambil harga Rp.15.000,-, itu harga yang pedas-manis, harga yang pas. Dengan harga itu, saya yakin, penjual jasa tattoo temporary sudah untung. Kalau sudah sepakat, barulah ijinkan mereka untuk menggambar tattoo.

Saya membuat tattoo tribal pada kaki seharga Rp.15.000,-. Tattoo-nya lumayan bagus. Unsur seni-nya ada. Tahan selama 2 minggu. Kalau tidak mandi, bisa tahan sampai berbulan-bulan (ini lelucon si tukang tattoo, lumayan lucu juga).

Saturday, October 25, 2008

Balon untuk Aulia


Sewaktu ada upacara adat di Tabanan, saya bertemu dengan sepupu jauh. Dia baru saja berumur 4-5 tahun, baru masuk TK. Namanya Aulia. Awalnya, dia agak sedikit canggung bertemu saya. Tapi lama kelamaan, dia semakin nempel sama saya. Apa-apa sama Om Kenneth. Keluar sama Om Kenneth. Makan sama Om Kenneth. Saya sih tak keberatan, toh dia lucu sekali

Sampai pada suatu hari, dia berlari-lari menyongsong saya. Katanya, dia baru saja membeli slurry balloon di warung sebelah. Agak mengejutkan juga, anak sekecil itu bisa membeli barang sendirian. Tapi yang jadi masalah, dia tak bisa meniup balon itu. Alhasil saya yang jadi sasaran untuk meniupkan balon untuk Aulia.

Balon pertama jadi. Dia senang sekali dan meminta untuk dibuatkan lagi. Balon kedua selesai. Namun ternyata dia masih belum puas. Akhirnya, saya habiskan saja semua cairan balon agar ia tak merengek lagi.

Tanpa saya sadari, Bli Pala—teman kakak saya—mengabadikan momen-momen itu lewat lensa kamera. Dan hasilnya luar biasa sekali. Ini beberapa tangkapan ekspresi saya bersama Aulia. Foto itu tak hanya bagus dan bernilai artistik tinggi, tapi juga mencitrakan diri saya sebagai penyayang anak. Haha. Thanks to Bli Pala.

Wednesday, October 1, 2008

Freedom Pose


Foto ini diambil kakak saya. Ceritanya biar mirip Jhonny Depp di POC yang lagi teriak "Ayee...!!!"
Tapi gagal total. Malahan kakak saya comment: "Itu lagi pose atau mau bunuh diri?". Kalau itu mah pertanyaan kurang ajar. Dia pikir saya mau kelelep kali ya? Hehehe...
Tapi, latarnya bagus. Saya suka sekali.
Oh iya. Tolong jangan dilihat tanggalnya. Saya sering lupa me-reset kamera. It doesn't matter, right?


Standing at The Edge of Bali

Libur lebaran ini sempat membuat saya bingung. Saya tak tahu harus pergi kemana. Tentu saja saya tak mau menghabiskan waktu duduk di depan laptop. Saya pikir, mestilah ada hal yang menarik di liburan kali ini.

Iseng-iseng, mulailah saya mencari lokasi pantai di Google Maps. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah Pecatu. Jika ingin tahu kawasan ini, cari peta Pulau Bali. Kawasan Pecatu terletak tepat di kaki Pulau Bali. Kebetulan saya menginap di Jimbaran sehingga tak perlu waktu lama untuk mencapai Pecatu.

Di kawasan ini banyak terdapat pantai yang terkenal karena ombaknya yang besar. Inilah surga para surfer. Ombak besar inilah yang tetap menjaga nama Bali sebagai salah satu tempat surfing yang diakui secara internasional. Pertama-tama, saya datang ke Pantai Suluban. Dalam Bahasa Bali, suluban berarti “masuk dengan merunduk”. Dan memang benar, untuk mencapai ke bawah tebing, kita harus masuk dengan menunduk di sela-sela tebing. Sampai di bawah, deburan ombak langsung menyambut. Kemudian saya mendaki sebuah tebing untuk melihat pantai secara keseluruhan. Disinilah puncak kepuasannya. Di atas tebing ini, saya bisa melihat luasnya Laut Bali dibatasi tebing-tebing berkapur. Di atas ombak, para surfer menari-nari. Di sebelah saya, fotografer profesional memotret mereka dengan lensa yang super-besar.

Saya benar-benar merasa di ujung dunia!

Pantai kedua adalah Pantai Padang-Padang. Akses untuk menuju ke tempat ini sedikit lebih berat. Maksud saya, jalannya curam sekali. Untuk menuju ke pantainya, saya harus menuruni anak tangga—yang lumayan membuat tersengal-sengal. Ombak pantai sedikit lebih tenang, sehingga pas sekali untuk bersantai. Seperti biasa, pantai ini dilengkapi tebing-tebing yang curam. Inilah yang menambah keindahan pantai ini. Siapapun juga—termasuk saya—setelah menginjakkan kaki di pasir putih Pantai Padang-Padang pasti akan merasa berada di remoted island.

Setelah mengunjungi kedua pantai itu, saya memutuskan untuk ke Nusa Dua. Ini tempat kedua yang paling saya kunjungi selain Kuta. Sudah tak terhitung entah berapa kali saya ke Nusa Dua. Yang pasti, lumayan sering. Kuta pasti-lah ramai sekali. Jadi saya lebih memilih pergi ke Nusa Dua, hitung-hitung untuk ‘bertapa’ sedikit lah. Hehehe…

Pulang-pulang, kaki saya pegel minta ampun. Belum lagi tangan saya sedikit terbakar matahari. Mata memerah, rambut acak-acakan. Tapi saya puas sekali. Dan bertambah pula impian saya: untuk bisa mengendarai ombak. Hm...

Tuesday, September 30, 2008

Menjangan... Oh... Menjangan


Beberapa hari yang lalu saya mengutak-atik komputer. Maksud saya, membongkar isi file-nya. Betapa terkejutnya saya, ketika melihat kumpulan foto perjalanan saya ke Pulau Menjangan. Hah. Saya pikir file itu sudah lenyap karena saya sempat meng-update antivirus beberapa kali sebelum saya menemukannya. Foto-foto itu demikian berharga sehingga saya langsung menggadakannya ke flashdisk, dan muncullah keinginan untuk posting di blog ini.

Saya kembali terkenang perjalanan itu. Kalau tidak salah, waktu itu saya baru masuk SMA. Jadi, kalau di foto ada orang kecil, kurus, dan memakai baju striped merah putih, itulah saya (Hehehe…). Perjalanan dimulai dari Singaraja, menuju sekitar 60 km ke barat, ke sebuah pelabuhan bernama Labuhan Lalang. Ini adalah satu-satunya akses menuju ke Pulau Menjangan. Sewa boat sekitar Rp.125.000,- termasuk cukup mahal ketika waktu itu, yaitu pada 2003. Tapi tak apalah. Semua itu pasti tak sebanding dengan apa yang menanti saya di pulau kecil itu.

Penyeberangan memakan waktu sekitar 20 menit. Laut biru mendominasi pemandangan. Laut biru itu berubah menjadi hijau ketika boat merapat ke pulau. Saya dapat melihat dasar laut yang penuh karang, ikan warna-warni, dan mollusca. Inilah yang menjaga nama Pulau Menjangan sebagai surga bagi para penyelam selama bertahun-tahun.

Pulau itu gersang sekali. Konon, katanya tak ada air bersih. Yang ada hanya rumput kering, semak-semak, dan pohon meranggas. Tapi satu hal yang menakjubkan adalah pemandangannya. Ini sama seperti laut di film Cast Away. Biru lalu tergradasi dengan warna hijau. Belum lagi suasana spiritual yang kental sekali. Semua itu menciptakan sensasi yang tiada tara. Saya lupa entah berapa pura yang ada disana, yang pasti lumayan banyak. Konon, pura disana merupakan sasuhunan Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Makanya, jangan heran jika menemukan patung Gajah Mada disana, berdiri dengan raut muka yang gagah. Hm.

Sampai detik ini, hanya itu yang saya ingat. Dan setelah 5 tahun berlalu, saya jadi ingin lagi ke pulau itu. Hitung-hitung untuk mengingat kembali kenangan itu. Hehehe…

Saturday, September 13, 2008

Pagi yang Sederhana di Pelabuhan Buleleng


Pagi itu, jam 8.45, saya datang ke rumah teman, Donkin, untuk bersama-sama datang ke kampus untuk ikut rapat. Kebetulan, rumah teman saya terletak di kompleks Pelabuhan Buleleng. Mata sepet, wajah pun masih lecek (karena, jujur, saya tak terbiasa bangun pagi), sehingga kalau berkaca, ingin rasanya saya menyeterika muka sendiri. Tubuh rasanya aneh, sehingga jika diregangkan, tulang-tulang menjadi ngilu semua. Apalagi ditambah dengan udara pagi yang dingin, membuat saya begitu benci untuk membelah kota sepagi itu.

Singkat cerita, sampailah saya di rumah Donkin, kemudian memanggil namanya. Bibinya menyuruh saya untuk menunggu. Dia masih ganti baju, katanya. Ah, pastilah lama. Saya pun berjalan-jalan sedikit di pelataran Pelabuhan Buleleng. Rupanya, pagi baru saja menggeliat. Orang-orang mulai menikmati paginya. Ada beberapa pria yang memancing di tepian laut (mereka percaya pagi hari merupakan saat yang tepat untuk memancing). Sebagian dari mereka hanya sebatas menyalurkan hobi saja, sehingga hasil tangkapan yang sedikit tak menjadi masalah besar. Ada orang bersepeda yang melintas di depan bangunan tua, tak tahu kemana tujuannya. Ada pula yang sekedar menikmati kopi sambil menghirup rokok. Semuanya berlatar langit biru yang sangat indah—biru laut dan biru langit seolah menyatu tanpa horison. Sinar matahari menerobos di sela-sela daun waru, kemudian debu membuatnya semakin indah. Akhirnya sinar itu mencetak dirinya pada tanah yang berasap.

Dermaga itu nampak istimewa dari sebelumnya, mungkin karena kesan yang ditimbulkan oleh langit biru yang indah itu. Di ujung dermaga, ada kakek yang mengajak cucunya ngalih ai (Artinya mandi sinar matahari pagi. Ingat pelajaran SD: sinar matahari pagi mengandung vitamin D). Dan seperti biasa, dermaga ini menjadi favorit para remaja untuk berpacaran.

Benar-benar potret kehidupan pagi yang biasa-biasa saja. Sama seperti pagi sebelumnya. Tapi, ada suatu hal yang membuat saya setuju bahwa itu adalah pagi yang sangat menakjubkan. Itu membuat saya berpikir: ternyata banyak hal indah di sekitar kita yang seringkali tidak kita sadari.

Ah. Saya pun meregangkan badan. Kali ini lebih terasa nikmatnya.